SELAMAT DATANG!!!!!

SILAKAN MEMBACA BLOG SAYA, KALAU ADA KEKURANGAN KASIH COMMENT DI SHOUTBOX YAAAA

Jumat, 21 Maret 2008

FootballerHistory : FERNANDO EZEQUIEL CAVENAGHI




                 Kecewa berat dan terpukul. Itulah perasaan Fernando Cavenaghi begitu Jose Pekerman mengumumkan skuad timnas Argentina ke Piala Dunia 2006. Sebabnya, tak ada namanya di daftar 23 pemain Albiceleste. Pupuslah harapan yang direnda sejak lama, berlaga di kancah paling bergengsi sedunia itu. Cavenaghi memang punya harapan besar untuk tampil di Piala Dunia. Hal yang membuatnya sangat optimistis adalah performa apiknya selama empat tahun membela River Plate di Liga Argnetina antara 2000 dan 2004. Prestasinya cemerlang, mencetak 55 gol dari 88 pertandingan dan menyumbangkan tiga gelar juara Apertura. Sudah begitu, dia pun bersinar terang di Piala Dunia U-20 pada 2003 di Uni Emirat Arab.
                   Berkat kecemerlangan dan gaya mainnya, publik sepak bola Argentina memberi julukan El Torito
 alias "Si Banteng Kecil" kepadanya. Mereka pun menilai Cavenaghi sebagai penerus Mario Kempes dan Gabriel Batistuta, dua striker legendaris Argentina karena kemampuan olah bola dan insting membunuhnya yang luar biasa. Sayang, reputasi itu meluruh seiring pindahnya ke Spartak Moskva pada 2004. Diboyong dengan harga 8,6 juta euro, dia hanya mengemas 12 gol dari 51 laga. Tak heran jika Pekerman lantas melupakannya. "Aku kehilangan kesempatan pergi ke Jerman karena memilih Rusia. Pekerman melupakanku gara-gara pilihanku itu," ungkap dia. "Tapi, aku tak pernah menyesali putusanku karena saat itu aku memang ingin pindah dari River Plate. Spartak adalah langkah pertamaku di Eropa," lanjutnya sambil menegaskan jika pun bertahan di River Plate, harapannya masuk timnas tetaplah kecil.
                  Kini, harapan itu kebali merekah. Putusannya bergabung dengan Girondins Bordeaux pada awal 2007 mulai berbuah manis. Di klub barunya itu, El Torito
 kembali menyeruduk dan memperlihatkan ketajamannya. Meski sempat tertatih-tatih, Cavenaghi mampu memanfaatkan kesempatan ketika Marouane Chamakh harus absen karena membela Maroko di Piala Afrika. Selama Chamakh pergi, Cavenaghi justru gemilang dengan mengemas empat gol dalam empat pertandingan. Sinar terang itu berlanjut saat Chamakh sudah kembalil. Kadung suka, pelatih Laurent Blanc memilihnya sebagai pendamping David Bellion. Sekadar catatan, Cavenaghi baru bisa menjebol gawang lawan di Ligue 1 pada musim ini kala Chamakh absen.
                 Cavenaghi jelas gembira dengan situasi itu. "Jujur saja, ini adalah momen terbaikku selama berada di eropa. Aku datang ke Bordeaux untuk mencari peruntungan baru bagi karierku. Aku ingin menunjukkan bahwa mereka tak salah merekrutky," aku top skorer Clausura Argentina 2001-02 itu. Faktor utama kembalinya sentuhan maut Cavenaghi mengakui, penempatan dua striker membuatnya bisa lebih mebgeksploitasi kemampuan olah bola dan ketajamannya.


INGIN KE SPANYOL
              
  Blanc pribadi menilai Cavenaghi sebagai sosok penting di timnya saat ini. "Dia adalah tipe pemian yag tak pernah kami miliki sebelumnya. Seorang pemain yang sangat bagus di area lawan," ungkapnya kepada Le Preisdent. "Hal yang saya sukai darinya adalah mampu membuat tim tampil apik," Lebihs jauh, Blanc menambahkan,"Cave adalah pemain yang berbeda dengan Chamakh. Dia adalah pemain yang sangat baik dan mampu bekerja sama dengan para pemain lain. Lebih dari itu, dia pun sangat efektif di mulut gawang. Sayamelihat kombinasimya dengan David Bellion sangat serasi dan berpengaruh besar kepada tim." Pujian serupa dilontarkan rekannya di lini depan, Bellion. "Dia pemain super. Sentuhannya luar biasa. Meski belum sering bermain di Ligue 1, dia selalu menunjukkan momen-momen bagus setiap kali tampil,"ujar eks pemain Manchester United itu.
                Duet Bellion-Cavenaghi memang maut. Sejauh ini, keduanya telah menyumbang 18 gol bagi Bordeaux atau 42 persen dari seluruh gol tim asuhan Blanc hingga pekan ke-25. Blanc tentunya berharap efek kembalinya ketajaman Cavenaghi akan terus berlanjut dan membawa kesuksesan bagi Bordeaux. Selidik punya selidik, El Torito
 ternyata memang menargetkan kebangkitan pada 2008. "Aku ingin menjadikan 2008 sebagai tahunku di Bordeaux." Pencanangan tahun kebangkitan itu bukan tanpa alasan. El Torito menyimpan ambisi lebih besar, yakni hengkang ke klub besar Eropa, terutama dari Spanyol. "Aku selalu menyukai Spnyol, tapi saat ini bukanlah saat yang tepat untuk memikirkan hal tersebut. Aku baru saja merintis karier lagi di Bordeaux dan masih terikat kontrak hingga tiga musim ke depan," beber dia lagi.
               Mengenai ambisinya berkiprah di Spanyol. Cavegol
 tahu betul dirinya harus berkerja ekstrakeras jika ingin dilirik oleh klub besar dari negeri itu. "Aku tahu, tak mudah bergabung dengan klub besar di sana. Semuanya sangat tergantung perkembanganku saat ini," jelasnya. Untuk itulah fokus dan konsentrasi Cavenaghi saat ini seluruhnya untuk Boreaux. Dia bahkan berjanji untuk menapaki jejak Pedro Pauleta yang sempat berkibar di klub itu. "Pauleta telah melakukan hal yangluar biasa di sini. Aku ingin sekali mendapat kesempatan untuk melakukan hal yang sama." Bagi Cavenaghi, menyamai Pauleta mungkin satu-satunya cara untuk merengkuh dua impian sekaligus, pindah ke klub besar Spanyol dan menarik hati pelatih timnas Argentina, Alfio Basile. Sebab, "Bergabung dengan timnas Argentina dan berlaga di Piala Dunia 2010 adalah impian terbesarku," harap Cavenaghi.




Sumber :   Tabloid Soccer


Tidak ada komentar:

KAMU DI KOTA MANA??

Sign by Danasoft - Myspace Layouts and Signs